TEORI-TEORI ASAM BASA MENURUT PARA AHLI
1. Sifat-sifat asam yaitu :
- Rasanya masam/asam
- Bersifat korosif atau merusak
- Bila dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+ atau ion ion hidrogen dan ion sisa asam yang bermuatan negatif.
- Bila diuji dengan indikator kertas lakmus biru dapat mengubah lakmus tersebut menjadi merah. Sedangkan jika diuji dengan indikator kertas lakmus yang berwarna merah, kertas lakmus tersebut tidak akan berubah warna. Indikator adalah suatu alat untuk menunjukkan suatu zat apakah bersifat asam maupun basa.
2. Sifat-sifat basa yaitu:
- Rasanya pahit
- Bersifat kaustik atau dapat merusak kulit
- Bila dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion OH- atau ion hidroksil dan ion logam atau gugus lain yang bermuatan negatif. Apabila ion OH- hampir seluruhnya dilepaskan atau ionisasinya sempurna, maka termasuk basa kuat atau dikatakan memiliki derajat keasaman yang rendah dan begitu juga sebaliknya.
- Bila diuji dengan indikator yang berupa lakmus merah, maka akan mengubah warna lakmus tersebut menjadi warna biru, sedangkan dengan kertas lakmus biru, tidak akan mengubah warna kertas lakmus tersebut.
A. Teori Asam Basa Arrhenius
Teori ini pertama kalinya dikemukakan pada tahun 1884 oleh Svante August Arrhenius. Menurut Arrhenius, definisi dari asam dan basa, yaitu:
asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion H+.
basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion OH−.
Gas asam klorida (HCl) yang sangat larut dalam air tergolong asam Arrhenius, sebagaimana HCl dapat terurai menjadi ion H+dan Cl− di dalam air. Berbeda halnya dengan metana (CH4) yang bukan asam Arrhenius karena tidak dapat menghasilkan ion H+ dalam air meskipun memiliki atom H. Natrium hidroksida (NaOH) termasuk basa Arrhenius, sebagaimana NaOH merupakan senyawa ionik yang terdisosiasi menjadi ion Na+ dan OH− ketika dilarutkan dalam air. Konsep asam dan basa Arrhenius ini terbatas pada kondisi air sebagai pelarut (Susianto, 2019)
Contoh pada senyawa asam yaitu Asam klorida: HCl(aq) → H+(aq) + Cl–(aq)
Contoh pada senyawa basa yaitu Kalsium hidroksida : Ca(OH)2(aq) → Ca2+(aq) + 2OH–(aq)
B. Teori Asam Basa Bronsted-Lowri
Konsep Dasar Teori Asam Basa Bronsted-Lowry ini ialah ketika suatu Asam dan Basa bereaksi antara satu sama lain, maka asam akan membentuk suatu Basa Konjugatnya dan Basa membentuk Asam Konjugatnya melalui pertukaran Proton.Bronsted–Lowry menyatakan bahwa Asam merupakan senyawa yang bisa menyumbangkan Proton yakni Ion H+ ke Senyawa (Zat) yang lain dan Basa ialah Senyawa yang bisa menerima Proton yakni Ion H+ dari Senyawa (Zat) yang lain. Menurut Bronsted dan Lowry bahwa Zat bisa berperan dengan baik sebagai Asam maupun Basa, jika Zat itu lebih dulu melepas Proton karena Zat ini nantinya akan berperan sebagai Asam dan lawannya sebagai Basa. Namun sebaliknya jika Suatu Zat lebih mudah menerima Proton, maka Zat tersebut akan berperan sebagai Basa dan dalam suatu Larutan Asam dalam Air, Air tersebut berperan sebagai Basa. Air merupakan Zat Atmosfer yang khas dan contoh reaksi Zat Atmosfer tersebut ialah reaksi antara 2 molekul Air yang dapat menghasilkan Ion Hidronium dan Ion Hidroksida (Adminami01, 2019).
Contoh pada teori ini yaitu H2 + HCl → H3O + + Cl-
Molekul hidrogen klorida akan memberikan sebuah proton (ion H+) ke molekul air. Ikatan kovalen koordinasi terbentuk antara satu pasangan mandiri pada oksigen dengan hidrogen dari HCl dan menghasilkan ion hidroksonium, H3O+. jadi yang bertindak sebagai asam (donor) yaitu HCl dan basa konjugasinya adalah H3O+. Sedangkan yang bertindak sebagai basa (akseptor) yaitu H2 dan asam konjugasinya adalah Cl-.
3. Teori Asam Basa Lewis
Asam Basa menurut Lewis ini bahwa Asam merupakan suatu Senyawa Kimia (Zat) yang bisa menerima Pasangan Elektron dari Senyawa (Zat) lain atau bisa dikatakan Akseptor pasangan Elektron, sedangkan Basa Menurut Teori Asam Basa Lewis ialah suatu Senyawa Kimia (Zat) yang bisa memberikan pasangan Elektron kepada Senyawa yang lain atau bisa dikatakan sebagai Donor pasangan Elektron. Teori Asam Basa Gilbert Newton Lewis ini merupakan sebuah Teori Asam Basa yang mengembangkan Teori Asam dan Basa Menurut Bronsted Lowry karena teori ini mempunyai keterbatasan dan kelemahan seperti saat menjelaskan reaksi – reaksi yang melibatkan senyawa tanpa proton (H+). Gilbert Newton Lewis berpendapat bahwa masalah Teori Asam-Basa harus diselesaikan dengan landasan Teori Struktur Atom, bukan hanya berdasarkan hasil percobaan saja. Sebagai contoh dapat dilihat berikut ini (Andini, 2015) :
![]() |
| Sumber : https://anggiwilianandini.wordpress.com |
- Pada gambar pertama, atom B pada molekul BF3 bertindak sebagai asam, karena ia bertindak sebagai akseptor pasangan elektron bebas dari ion F– . Sedangkan ion F– bertindak sebagai basa, karena ia bertindak sebagai donor pasangan elektron untuk atom B pada molekul BF3.
- Pada gambar kedua, ion H+ bertindak sebagai asam, karena ia bertindak sebagai akseptor pasangan elektron bebas dari molekul NH3. Sedangkan atom N pada molekul NH3 bertindak sebagai basa, karena ia bertindak sebagai donor pasangan elektron untuk ion H+.
DAFTAR PUSTAKA
Adminami01. 2019. Teori Asam Basa Bronsted – Lowry Dalam ilmu Kimia. https://rumusrumus.com/teori-asam-basa-bronsted-lowry/. (Diakses pada tanggal 5 Oktober 2019).Andini, A. W. 2015. Teori Asam dan Basa Lewis. https://anggiwilianandini.wordpress.com/kimia-kelas-xi/larutan-asam-basa/teori-asam-basa/teori-asam-dan-basa-lewis/. (Diakses pada tanggal 5 Oktober 2019).
Susianto, N. 2019. Teori Asam Basa. https://www.studiobelajar.com/teori-asam-basa/. (Diakses pada tanggal 5 Oktober 2019).



Terima kasih! Sangat membantu :)
ReplyDelete